Pola-Pola Hereditas


Di sekitar kita beragam variasi sifat dapat kita lihat, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuhan. Dalam satu keluarga kita misalnya, terdapat beragam variasi sifat yang diturunkan orang tua kita kepada kita. Mungkin ada yang berambut kriting, ada yang berambut lurus. Ada yang memiliki lesung pipit, ada yang tidak. Ada yang lidahnya dapat digulung, ada yang tidak. Bahkan mungkin dalam satu keluarga ada yang bermata coklat, biru atau abu-abu. Pada hewan pun juga dapat dijumpai variasi sifat. Sebagai contoh, anak kucing dapat memiliki variasi warna rambut meskipun induknya satu. Pada tumbuhan juga dapat ditemukan variasi dengan mudah. Misalnya, tumbuhan yang sejenis ada yang berbatang tinggi dan pendek, ada yang berdaun kecil dan besar. Prinsip genetika apa yang dapat menjelaskan mekanisme pemindahan sifat tersebut dari orang tua kepada keturunannya?

Suatu penjelasan yang mungkin diberikan mengenai hereditas adalah hipotesis “pencampuran”, suatu gagasan bahwa materi genetik yang disumbangkan kedua orang tua bercampur dengan cara yang sama seperti didapatkannya warna hijau dari pencampuran warna biru dan kuning. Hipotesis ini memprediksi bahwa dari generasi ke generasi, populasi dengan perkawinan bebas akan memunculkan populasi individu yang seragam. Namun demikian, pengamatan kita setiap hari dan hasil percobaan pengembangbiakan hewan dan tumbuhan, ternyata bertolak belakang dengan prediksi tersebut.

Sebuah alternatif terhadap model pencampuran ini adalah hipotesis penurunan sifat “partikulat”, yaitu mengenai ide gen. Menurut model ini, orang tua memberikan unit-unit warisan yang memiliki ciri sendiri yaitu gen yang tetap mempertahankan suatu ciri khusus tertentu pada keturunannya. Kumpulan gen suatu organisme lebih menyerupai sekumpulan kelereng dibandingkan seember cat. Seperti kelereng, gen dapat dipilah dan diteruskan dari generasi ke generasi dalam bentuk yang tidak terbatas.

Hukum Pewarisan Sifat

Asal kejadian genetika modern dimulai di kebun sebuah biara, dimana seorang biarawan bernama Gregor Mendel mencatat sebuah mekanisme penurunan sifat partikulat, yaitu Theory of Particulate Inheritance. Mendel menerangkan adanya fenomena faktor keturunan (gen) yang secara kekal diwariskan dari induk kepada keturunannya melalui hukum pemisahan. Teori ini dibangun Mendel melalui pengamatan terhadap persilangan tanaman kacang kapri. Mendel memilih bekerja dengan kacang kapri karena kacang kapri memiliki banyak varietas. Misalnya, ada varietas yang memiliki bunga ungu, sementara varietas yang lain memiliki bunga putih. Ahli genetika menggunakan istilah karakter untuk menjelaskan sifat yang dapat diturunkan, seperti warna bunga.

Penggunaan kacang kapri juga menguntungkan, karena Mendel dapat mengontrol tanaman apa saja yang akan dibiarkan mengalami penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang. Tanaman kacang kapri memiliki organ kelamin jantan (stamen atau benang sari) dan organ kelamin betina (pistillum atau putik) dalam tiap bunganya. Biasanya tanaman kacang kapri mengadakan penyerbukan sendiri. Mendel memindahkan serbuk sari yang belum dewasa (matang) dan selanjutnya menaburkan serbuk sari ke kepala putik pada bunga yang serbuk sarinya sudah dihilangkan.

Ada tujuh sifat yang diamati oleh Mendel pada kacang kapri, yaitu :

  • biji bulat dibandingkan dengan biji keriput
  • biji warna kuning dibandingkan dengan biji warna hijau
  • buah berwarna hijau dibandingkan dengan buah berwarna kuning
  • buah mulus dibandingkan dengan buah berlekuk
  • bunga berwarna ungu dibandingkan dengan bunga berwarna putih
  • letak bunga aksial (di ketiak tanaman)
    dibandingkan dengan letak bunga terminal (di ujung tanaman)
  • batang panjang dibandingkan dengan batang pendek

Di dalam genetika, teori Mendel sangat penting bahkan dijadikan dasar dalam memahami genetika dan melakukan analisis atas pola-pola pewarisan sifat genetik. Hukum Mendel pada prinsipnya terdiri dari dua rumusan, yaitu hukum I Mendel dan hukum II Mendel.

Kesimpulan genetika Mendel diperoleh dari persilangan kacang kapri (Pisum sativum).

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s